Ia Membuang Bayinya yang Sudah Tak Bernyawa ke Sarang Serigala! Hal Mencengangkan Ini pun Terjadi!

Jaman dahulu kala, ada sebuah desa kecil di kaki gunung hiduplah seorang pencari kayu bakar yang polos dan jujur bernama Zhang Dali. Zhang Dali sangat giat dan rajin, dia selalu pergi ke gunung untuk mencari kayu bakar, lalu dibawa ke kota untuk dijual.

Sponsored Ad

Suatu hari, seperti biasa dia ke gunung lagi untuk mencari kayu bakar. Ketika ingin naik ke lereng bukit, tiba-tiba mendengar suara di semak-semak tak jauh darinya. Dia menyingkap semak itu dan melihat sebuah lubang yang dalam dan seekor anak serigala yang terjebak di dalamnya.

Anak serigala itu mendengar suara dari atas lubang sambil menggaruk-garuk dengan kedua cakar mungilnya, seakan minta tolong. Mungkin karena sudah terlalu lama di dalam, lolongannya pun mulai serak dan lemah. Karena itu, dia menggunakan cakar untuk menghasilkan suara.

Sponsored Ad

Karena tak tega, Zhang Dali segera menyingkirkan duri-duri di sisi lubang dengan kapaknya, kemudian turun ke bawah dan membawa naik anak serigala itu. Dia melihat-lihat sejenak anak serigala itu sambil menepuk lembut kepalanya.

Sponsored Ad

“Panik ya, sekarang sudah aman, pulanglah ke pelukan ibumu.” Kata Zhang Dali kepada anak serigala itu. Anak serigala itu seakan mengerti apa yang dikatakan Zhang. Dia mendekap kedua cakarnya  seakan mengucapkan terima kasih, lalu perlahan-lahan berjalan seakan enggan pergi dari siru. Zhang baru ke lereng gunung mencari kayu bakar setelah melihat serigala kecil itu hilang dari pandangannya.

Tak lama setelah mengumpulkan kayu bakar, sayup-sayup Zhang mendengar gerakan suara di belakangnya dan menoleh, dia melihat seekor induk serigala sambil membawa anak serigala yang barusan diselamatkannya, diikuti oleh beberapa anak serigala di belakang.

Sponsored Ad

Induk serigala itu membawa anak-anaknya menghampiri Zhang, anak serigala yang diselamatkannya itu turun dari punggung induknya dan bersama induknya berjongkok sambil mengangguk-anggukan kepala di hadapan Zhang, seakan mengucapkan terima kasih kepadanya.

Sponsored Ad

Awalnya Zhang terkejut melihat sekawanan serigala itu, kemudian sangat tersentuh ketika melihat induk serigala itu tidak bermaksud jahat, lalu berkata kepada mereka,: “Kamu tidak perlu berterima kasih padaku, lain kali awasi anak-anakmu, jangan biarkan anak-anak berkeliaran. Kalau tidak bertemu saya hari ini, mungkin anakmu akan mati kelaparan di lubang itu ? Pulanglah dan carikan makanan untuk anak-anakmu yang sepertinya sudah kelaparan.”

Induk serigala itu kembali berjongkok setelah mendengar kata-kata pak Zhang dan baru pergi membawa anak-anaknya. Zhang memiliki seorang ibu yang sudah tua dan seorang istri yang baru setahun dinikahi. Istrinya sekarang sedang hamil dan akan melahirkan dalam beberapa hari ke depan. Oleh karena itu, Zhang selalu berangkat pagi-pagi mencari kayu bakar dan pulang lebih awal menemani istrinya yang akan segera melahirkan.

Sponsored Ad

Beberapa hari kemudian, istri Zhang melahirkan, tapi dia tidak suara tangisan anaknya. Saat Zhang menunggu dengan harap-harap cemas, sayup-sayup dia mendengar tetangga yang membantu kelahiran istrinya berkata : “Maaf bu, saya sudah berusaha semampunya, tapi tampaknya anakmu itu tidak bisa diselamatkan lagi.”

Tak lama kemudian, terdengar tangisan pilu istrinya dari dalam ruangan. Merasa ada yang tidak beres, Zhang pun segera menerjang masuk ke dalam kamar persalinan seperti orang giladan melihat istrinya terpaku di tempat sambil memeluk anak yang baru dilahirkannya itu sudah tak bernyawa.

Sponsored Ad

Tetangga yang membantu kelahiran anaknya berkata pada Zhang : “Lihatlah, betapa sedihnya ibu dan istrimu itu melihat anak yang baru dilahirkannya sudah tak bernyawa. Lebih baik segera kamu buang bayi itu sejauh mungkin.”

Orang-orang dulu bilang, bayi yang kehilangan nyawa kurang dari satu bulan tidak boleh dikubur, harus dibuang ke hutan agar saat reinkarnasi lagi tidak mencelakai orang-orang. Mendengar itu, Zhang pun segera mengambil bayi yang tak bernyawa dari pelukan ibunya dan membawanya ke gunung.

Sponsored Ad

Sambil berlinang air mata, Zhang berlari di malam yang gelap dan baru berhenti setelah cukup lama berlari. Dia melihat sekeliling bukit, lalu meletakkan bayi itu di lereng bukit dan segera pulang.

Sponsored Ad

Sejak kehilangan anaknya, hampir sebulan Zhang Dali tidak mencari kayu bakar di gunung demi menjaga ibu dan istrinya yang masih sedih meratapi kepergian anaknya. Tapi entah kenapa, Zhang selalu mendengar lolongan serigala di luar desa pada tengah malam. Lolongan serigala itu seakan memanggil seseorang.

Suatu hari, ibu Zhang melihat sudah tidak ada uang simpanan lagi di rumah, lalu berkata kepada Zhang, : “Nak, mulai besok kamu cari cari kayu bakar lagi. Kalau begini terus, kita makan apa nanti ?”

Keesokan harinya, Zhang pergi ke hutan mencari kayu bakar. Sesampainya di bukit dan ketika hendak menebang kayu, sayup-sayup dia mendengar suara di belakangnya, celananya digigit dan diseret oleh serigala.

Dia menoleh ke belakang dan ternyata induk serigala yang anaknya beberapa waktu pernah diselamatkannya. Induk serigala itu mencengkram celana pak Zhang dengan taring dan menyeretnya, seolah-olah ada sesuatu yang ingin ditunjukkan kepadanya. Zhang pun menaruh pekerjaannya, dan berjalan di belakang mengikuti langkah kaki induk serigala.

Induk serigala itu membawanya ke sebuah bukit. Baru beberapa langkah berjalan, sayup-sayup dia mendengar tangisan bayi dari sebuah gua. Zhang bergegas mengikuti induk serigala itu ke pintu masuk gua, dan dia melihat sesosok bayi terbaring dalam balutan selimut sambil menangis, sementara anak serigala yang pernah diselamatkannya tampak menjaga di sisinya.

Zhang melihat lebih dekat selimut kecil itu, bukankah itu selimut yang dibuat istrinya untuk anaknya? Dan bayi ini, apakah bayi tak bernyawa yang saya buang ke hutan ? Zhang terpaku di tempat.

Anak serigala itu seakan menyapanya saat melihat Zhang berjalan menghampirinya, lalu menggigit celana dan menyeretnya ke sisi bayi itu.

Ternyata bayi itu masih hidup, saat itu sang bayi tersumbat cairan ketuban menjelang lahir, sementara tetangganya yang membantu persalinan ketika itu sudah mencoba memukul-mukul punggung anak itu untuk mengeluarkan cairan ketuban tapi tak berhasil.

Dan tak disangka, ketika Zhang dimana karena panik dan terburu-buru, dia menggendong bayi tak bernyawa itu dengan kepala menghadap ke bawah dan berlari kencang sehingga tanpa disadari justru membuang air ketuban si bayi. Jadi tak lama setelah Zhang berlari pulang ke rumah, anak itu pun mulai bernapas dan menangis dalam balutan selimut.

Segala sesuatu yang terjadi selalu ada kebetulannya, tempat di mana Zhang membuang bayinya ketika itu ternyata adalah tempat tinggal induk serigala itu. Induk serigala bergegas menuju ke arah suara saat mendengar tangisan si bayi.

Induk serigala menghampiri bayi itu dan mengendus aroma Zhang di badan si bayi. Kemudian induk serigala menggondolnya ke gua dan membiarkan anak-anaknya menemani bayi itu.

Paginya, induk serigala ke tempat dimana Zhang biasa mencari kayu bakar dan malamnya dia ke desa tempat tinggal Zhang dan melolong memanggilnya. Induk serigala yang juga baru melahirkan anak-anaknya itu memberi makan anak-anaknya berikut si bayi dengan susunya.

Pada pagi itu, induk serigala akhirnya bertemu Zhang kemudian membawanya ke gua. Bukan main gembiranya Zhang setelah melihat anaknya ternyata masih hidup. Dia memeluk anak itu dan melihatnya dengan seksama.

Perasaan Zhang bercampur aduk, senang, gembira dan sangat bahagia melihat bayi yang menggemaskan dan sehat. Melihat kebahagiaan Zhang, induk serigala bersama anak-anaknya seakan ikut bergembira dan seketika menari mengelilinginya.

Zhang tampak tersenyum bahagia, lalu dia menundukkan kepalanya seakan mengucapkan terima kasih kepada induk serigala dan keluarganya. Tak lama kemudian, Zhang pulang ke rumah sambil menggendong anaknya.

Bukan main bahagianya ibu dan istrinya setelah dia membawa pulang anaknya dan menceritakan hal ihwal yang dialaminya.

Ibu Zhang yang sangat bahagia melihat cucunya hidup kembali dari kematian itu berkata pada Zhang : “Nak! Anak ini telah diselamatkan oleh serigala itu, dan pernah minum susunya, kita harus memberitahu anak itu kelak untuk tidak melupakannya. Besok kamu bawa dua ekor ayam kita ke gunung, kita harus berterima kasih pada keluarga serigala itu.”

“Bu, saya juga ingin membawa anak itu untuk berterima kasih pada mereka,”kata Zhang. Sementara itu, istri Zhang juga dengan penuh semangat ingin menemui serigala itu sebagai tanda terima kasihnya.

Keesokannya, Zhang membawa istri dan anaknya serta dua ekor ayam berkunjung ke gua tempat tinggal induk serigala. Induk serigala bersama anak-anaknya tampak gembira melihat kunjungan Zhang dan istrinya.

Setelah cukup lama bermain di gua, Zhang baru pulang. Sejak itu,Zhang dan keluarga serigala menjadi teman baik. Puluhan tahun kemudian, anak Zhang pun tumbuh besar, begitu juga dengan anak-anak serigala tumbuh menjadi serigala jantan yang kuat. Persahabatan mereka tetap terjalin erat, dan serigala jantan juga selalu dengan setia menjaga dan mengawasi keluarga Zhang dari kejauhan.


Sumber : erabaru